Sistem Pengapian CDI-AC

Tuesday, January 10th, 2017 - Kelistrikan, Mesin, Sepeda Motor

Sistem Pengapian CDI-AC Sepeda Motor

Sistem CDI-AC pada umumnya terdapat pada sistem pengapian elektronik yang suplai tegangannya berasal dari source coil (koil pengisi/sumber) dalam flywheel magnet (flywheel generator). Contoh ilustrasi komponen-komponen CDI-AC seperti gambar: 1 dibawah ini.

Sistem Pengapian CDI-AC Sepeda Motor,Komponen-komponen CDI – AC berikut rangkaiannya,sistem pengapian cdi-ac,sistem pengapian cdi ac,sistem pengapian cdi ac sepeda motor,sistem pengapian cdi ac pada sepeda motor,sistem pengapian cdi ac dan dc,sistem pengapian cdi ac dc,prinsip kerja sistem pengapian cdi-ac,komponen sistem pengapian cdi ac,rangkaian sistem pengapian cdi ac,cara kerja sistem pengapian cdi ac,fungsi sistem pengapian cdi ac,gambar rangkaian sistem pengapian cdi ac,cara kerja sistem pengapian cdi ac dan dc,cara kerja sistem pengapian cdi ac pada sepeda motor,cara kerja sistem pengapian cdi ac sepeda motor,perbedaan sistem pengapian cdi ac dan dc

Gambar 1. Komponen-komponen CDI – AC
berikut rangkaiannya

Cara Kerja Sistem Pengapian CDI-AC

Pada saat magnet permanen (dalam flywheel magnet) berputar, maka akan dihasilkan arus listrik AC dalam bentuk induksi listrik dari source coil seperti terlihat pada gambar 2 di bawah ini. Arus ini akan diterima oleh CDI unit dengan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt. Arus tersebut selanjutnya dirubah menjadi arus setengah gelombang (menjadi arus searah) oleh diode, kemudian disimpan dalam kondensor (kapasitor) dalam CDI unit.

Cara Kerja Sistem Pengapian CDI-AC

Gambar 2. Cara kerja CDI – AC (1)

Rangkaian CDI unit bisa dilihat dalam gambar 3. Kapasitor tersebut tidak akan melepas arus yang disimpan sebelum SCR (thyristor) bekerja.

Diagram rangkaian dasar Unit CDI

Gambar 3. Diagram rangkaian dasar Unit CDI

Pada saat terjadinya pengapian, pulsa generator akan menghasilkan arus sinyal. Arus sinyal ini akan disalurkan ke gerbang (gate)  SCR. Seperti terlihat pada gambar 4 di bawah ini:

Cara kerja CDI – AC

Gambar 5. Cara kerja CDI – AC

Dengan adanya trigger (pemicu) dari gate tersebut, kemudian SCR akan aktif (on) dan menyalurkan arus listrik dari anoda (A) ke katoda (K) (lihat posisi anoda dan katoda pada gambar 5)

Cara kerja CDI – AC bag 3

Gambar 6. Cara kerja CDI – AC bag 3

Dengan berfungsinya SCR tersebut, menyebabkan kapasitor melepaskan arus (discharge) dengan cepat. Kemudian arus mengalir ke kumparan primer (primary coil) koil pengapian untuk menghasilkan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt sebagai tegangan induksi sendiri (lihat arah panah aliran arus pada kumparan primer koil).

Akibat induksi diri dari kumparan primer tersebut, kemudian terjadi induksi dalam kumparan sekunder dengan tegangan sebesar 15 KV sampai 20 KV. Tegangan tinggi tersebut selanjutnya mengalir ke busi dalam bentuk loncatan bunga api yang akan membakar campuran bensin dan udara dalam ruang bakar.

Terjadinya tegangan tinggi pada koil pengapian adalah saat koil pulsa dilewati oleh magnet, ini berarti waktu pengapian (Ignition Timing) ditentukan oleh penetapan posisi koil pulsa, sehingga sistem pengapian CDI tidak memerlukan penyetelan waktu pengapian seperti pada sistem pengapian konvensional. Pemajuan saat pengapian terjadi secara otomatis yaitu saat pengapian dimajukan bersama dengan bertambahnya tegangan koil pulsa akibat kecepatan putaran motor. Selain itu SCR pada sistem pengapian CDI bekerja lebih cepat dari contact breaker (platina) dan kapasitor melakukan pengosongan arus (discharge) sangat cepat, sehingga kumparan sekunder koil pengapian teriduksi dengan cepat dan menghasilkan tegangan yang cukup tinggi untuk memercikan bunga api pada busi yang dikontrol oleh sistem pengapian CDI-AC tersebut.