Sistem Pengapian Dengan Magnet

Monday, September 4th, 2017 - Mesin, Sepeda Motor

Sistem Pengapian Dengan Magnet (Flywheel Generator/Magneto Ignition System)

Sistem pengapian flywheel magnet merupakan sistem pengapian yang paling sederhana dalam menghasilkan percikan bunga api di busi dan telah terkenal penggunaannya dalam pengapian motor-motor kecil sebelum munculnya pengapian elektronik. Sistem pengapian ini mempunyai keuntungan yaitu tidak tergantung pada baterai untuk menghidupkan awal mesin karena sumber tegangan langsung berasal dari source coil (koil sumber/pengisi) sendiri.

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya (lihat bagian sumber tegangan pada sepeda motor), yang menghasilkan arus listrik adalah alternator atau flywheel magneto. Sistem pengapian magnet terdiri dari rotor yang berisi magnet permanen/tetap, dan stator yang berisi ignition coil (koil/spool pengapian) dan spool lampu. Rotor diikatkan ke salah satu ujung crankshaft (poros engkol) dan berputar bersama crankshaft tersebut serta berfungsi juga sebagai flywheel (roda gila) tambahan.

Arus listrik dihasilkan oleh alternator atau flywheel magneto adalah arus listrik bolak-balik atau AC (Alternating Currrent). Hal ini terjadi karena arah kutub magnet berubah secara terus menerus dari utara ke selatan saat magnet berputar.

a. Cara kerja sistem pengapian dengan magnet

Prinsip kerja dari sistem pengapian ini adalah seperti “transfer/pemindahan energi” atau “pembangkitan medan magnet”. Source coil pengapian terhubung dengan kumparan primer koil pengapian. Diantara dua komponen (koil) tersebut dipasang platina (contact breaker/contact point) yang berfungsi sebagai saklar dan dipasang secara paralel dengan koil-koil tadi. Gambar 1 dan 2 di bawah ini adalah contoh rangkaian sistem pengapian magnet pada sepeda motor.

Rangkaian sistem pengapian dengan magnet

Gambar 1. Rangkaian sistem pengapian magnet

Pada saat platina dalam keadaan menutup, maka arus yang dihasilkan magnet akan mengalir ke massa melalui platina, sedangkan pada koil pengapian tidak  ada arus yang mengalir. Saat posisi rotor sedemikian rupa sehingga arus yang dihasilkan source coil sedang maksimum, platina terbuka oleh cam/nok.

Rangkaian sistem pengapian magnet

Gambar 2. Rangkaian sistem pengapian magnet

Kejadian ini menyebabkan arus ke massa lewat platina terputus dan arus mengalir ke kumparan primer koil dalam bentuk tegangan induksi sekitar 200V – 300V. Karena perbandingan kumparan sekunder lebih banyak dibanding kumparan primer, maka pada kumparan sekunder terjadi induksi yang lebih besar sekitar 10KV – 20KV yang bisa membuat terjadinya percikan bunga api pada busi untuk membakar campuran bahan bakar dan udara. Induksi ini disebut induksi bersama (mutual induction).

Untuk menghasilkan tegangan induksi yang besar maka pada saat platina mulai membuka, tidak boleh ada percikan bunga api dan aliran arus pada platina tersebut yang cenderung ingin terus mengalirnya ke massa. Oleh karena itu, pada rangkaian sistem pengapian dipasangkan kondensor/kapasitor untuk mengatasi percikan pada platina saat mulai membuka.

b. Pengontrolan saat pengapian (ignition timing)

Pengontrolan saat pengapian pada sistem pengapian magnet generasi awal pada umumnya telah di set/stel oleh pabrik pembuatnya. Posisi stator telah ditentukan sedemikian rupa sehingga untuk merubah/membuat variasi saat penga-piannya tidak dapat dilakukan. Walau demikian pengubahan saat pengapian masih dapat dilakukan dengan jumlah variasi yang kecil yaitu dengan merubah celah platina.

Perubahan saat pengapian yang cukup kecil tadi masih cukup untuk motor kecil dua langkah, sedangkan untuk motor yang lebih besar dan empat langkah dibutuhkan pemajuan (advance) saat pengapian yang lebih besar seiring dengan naiknya putaran mesin. Untuk mengatasinya dipasangkan unit pengatur saat pengapian otomatis atau ATU (automatic timing unit). Konstruksi ATU seperti ditunjukkan pada gambar 3 di bawah ini :

ATU dengan dua buah platina,sistem pengapian dengan magnet,sistem pengapian magnet pada motor,sistem pengapian magnet konvensional,keuntungan sistem pengapian dengan magnet,sistem pengapian magnet,sistem pengapian magnet pada sepeda motor,sistem pengapian magnet adalah,sistem pengapian magnet pada mobil,cara kerja sistem pengapian dengan magnet,sistem pengapian magnet sepeda motor,flywheel generator/magneto ignition system,magneto ignition system,magneto ignition system diagram,magneto ignition system ppt,magneto ignition system pdf,magneto ignition system animation,magneto ignition system circuit diagram,magneto ignition system youtube,magneto ignition system block diagram

Gambar 3. ATU dengan dua buah platina

Keterangan :

1. Centrifugal weights
2. centrifugal weight pivot
3. Cam pivot
4. Cam
5. Condenser
6. Contact leaf spring
7. Contacts
8. Cam lubrication pad
9. Cam follower or heel

ATU terdiri dari sebuah piringan yang di bagian tengahnya terdapat pin (pasak) yang membawa cam (nok). Cam dapat berputar pada pin, tetapi pergerakkannya dikontrol oleh dua buah pegas pemberat.

Cara kerja ATU saat kecepatan rendah

Gambar 4. Cara kerja ATU saat kecepatan rendah

Pada saat kecepatan idle dan rendah, pegas menahan cam ke posisi memundurkan (retarded) saat pengapian (lihat gambar 4). Sedangkan pada saat kecepatan mesin dinaikkan, pemberat akan terlempar ke arah luar karena gaya gravitasi saat pengapian.

Cara kerja ATU saat kecepatan tinggi

Gambar 5. Cara kerja ATU saat kecepatan tinggi

Hal ini akan berakibat cam berputar dan terjadi pemajuan (advance). Semakin naik putaran mesin, maka pemajuan saat pengapian pun semakin bertambah maksimum pemajuan sekitar +20° putaran sudut crankshaft (lihat gambar 5 diatas).

Kami harap uraian materi tentang “Sistem Pengapian Dengan Magnet (Flywheel Generator/Magneto Ignition System)” diatas mudah dipahami.