Sistem Pengapian Konvensional Baterai

Thursday, February 9th, 2017 - Mesin, Sepeda Motor

Sistem Pengapian Konvensional Baterai (Battery And Coil Ignition System)

Sistem pengapian konvensional baterai merupakan sistem pengapian yang mendapat sumber tegangan tidak dari source coil lagi, melainkan langsung dari sistem kelistrikan utama mesin, yaitu baterai. Baterai berfungsi sebagai tempat menyimpan energi listrik. Sistem pengapian ini akan lebih menguntungkan karena lebih kuat dan stabil dalam memberikan suplai tegangan, baik untuk pengapian itu sendiri maupun untuk aksesoris seperti sistem penerangan.

a. Cara kerja sistem pengapian konvensional baterai

Cara kerja sistem pengapian konvensional baterai pada dasarnya sama dengan sistem pengapian konvensional magnet. Namun terdapat perbedaan dalam pemasangan/perangaian platina. Dalam sistem pengapian magnet, platina dirangkai secara paralel dengan koil pengapian, sedangkan dalam sistem pengapian baterai dirangkai secara seri. Oleh karena itu, dalam sistem pengapian baterai, rangkaian primer pengapian baru akan terjadi secara sempurna (arus mengalir dari baterai sampai massa) jika posisi platina dalam keadaan tertutup. Gambar 1 dan 2 di bawah ini adalah contoh rangkaian sistem pengapian baterai pada sepeda motor.

Sistem Pengapian Konvensional Baterai (Battery And Coil Ignition System),sistem pengapian konvensional baterai,sistem pengapian baterai konvensional pada mobil 4 silinder,fungsi sistem pengapian baterai konvensional,komponen sistem pengapian konvensional baterai,sistem pengapian konvensional dengan baterai,cara kerja sistem pengapian konvensional baterai,cara kerja sistem pengapian baterai konvensional 4 silinder,komponen sistem pengapian konvensional dengan baterai,komponen utama sistem pengapian baterai konvensional,jelaskan cara kerja sistem pengapian baterai konvensional

Gambar 2. Sistem pengapian baterai (1)

Pada saat ignition switch (kunci kontak) dinyalakan, dan posisi platina dalam keadaan menutup, arus dari baterai mengalir ke massa melalui kumparan primer koil pengapian dan platina. Dengan mengalirnya arus tersebut, pada inti besi koil pengapian akan timbul medan magnet.

Sistem pengapian baterai

Gambar 2. Sistem pengapian baterai (2)

Pada saat platina terbuka oleh cam, aliran arus pada rangkaian primer akan terputus. Hal ini akan menyebabkan terjadi induksi sendiri pada kumparan primer  sebesar 200 V – 300 V. Karena perbandingan kumparan sekunder lebih banyak dibanding kumparan primer, maka pada kumparan sekunder terjadi induksi yang lebih besar sekitar 10KV – 20KV yang bisa membuat terjadinya percikan bunga api pada busi untuk pembakaran campuran bahan bakar dan udara. Induksi ini disebut induksi bersama (mutual induction).

Sama halnya seperti pada sistem pengapian konvensional yang menggunakan magnet, untuk menghasilkan tegangan induksi yang besar maka pada saat platina mulai membuka, tidak boleh ada percikan bunga api dan aliran arus dari platina tyang cenderung ingin terus mengalirkannya ke massa. Oleh karena itu, pada rangkaian sistem pengapian baterai juga dipasang kondensor/kapasitor untuk mengatasi percikan pada platina saat mulai membuka tersebut.

b. Pengontrolan saat pengapian (ignition timing) sistem pengapian konvensional baterai

Untuk mengatasinya dipasangkan unit pengatur saat pengapian otomatis atau ATU (automatic timing unit). ATU terdiri dari sebuah piringan yang di bagian tengahnya terdapat pin (pasak) yang membawa cam (nok). Cam dapat berputar pada pin, tetapi pergerakkannya dikontrol oleh dua buah pegas pemberat. Untuk mengatur dan mengontrol saat pengapian pada sistem pengapian konvensional baterai dipasangkan unit pengatur saat pengapian otomatis (ATU).