Transistor Pada Sepeda Motor

Friday, October 12th, 2018 - Kelistrikan, Sepeda Motor

Penggunaan Transistor Pada Sepeda Motor

Transistor merupakan kependekan dari Transfer Resistor, atau suatu komponen elektronika yang dapat mengalirkan atau memutuskan aliran arus yang besar dengan pengendalian arus listrik yang relatif sangat kecil, dengan mengubah resistansi lintasannya. Kemampuannya tersebut hampir sama dengan relay, namun transistor memiliki kelebihan antara lain  yaitu :

  1. Arus pengendali pada transistor jauh lebih kecil sehingga lebih mudah mengendalikannya.
  2. Transistor tidak menggunakan kontak mekanis, sehingga tidak menimbulkan percikan api dan lebih tahan lama.
  3. Ukuran transistor relatif lebih kecil dan kompak dibanding relay.
  4. Dapat bekerja pada tegangan kerja yang bervariasi.

Namun demikian, disamping mempunyai kelebihan, transistor juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain:

  1. Kesalahan penghubungan kaki transistor akan berakibat kerusakan permanen.
  2. Panas yang dihasilkan pada transistor lebih besar sehingga bila tidak diberi pendinginan yang cukup, akan memperpendek usia transistor.

Terdapat dua jenis transistor, yaitu  :

  1. Tipe NPN
  2. Tipe PNP
Penggunaan Transistor Pada Sepeda Motor

Gambar 1. Transistor dan simbolnya (E = emitor, B = basis/gate, C = kolektor)

Untuk menentukan apakah suatu transistor adalah NPN atau PNP tidak dapat secara fisik. Kita dapat melihat dari kode dan mencocokkannya dengan Transistor handbook. Pada transistor terdapat dua aliran arus lsitrik, yaitu arus dari kaki Basis ke Emitor (atau sebaliknya) yaitu IB-E dan arus yang mengalir dari Kolektor ke Emitor (atau sebaliknya) yaitu IC-E.

Aplikasi/penerapan transistor dalam sistem kelistrikan banyak digunakan sebagai saklar elektronik. Adapun cara kerja transistor secara ringkas adalah : jika ada arus pemicu (arus kecil) yang mengalir dari Basis ke Emitor  maka arus yang besar akan mengalir dari  Kolektor ke Emitor (untuk jenis NPN) atau jika ada arus pemicu (arus kecil) dari Emitor ke Basis, maka arus yang besar akan mengalir dari Emitor ke Kolektor (untuk jenis PNP).

Contoh Aplikasi Transistor pada Sepeda Motor

Aplikasi/penggunaan transistor pada sistem kelistrikan sepeda motor bisa ditemukan dalam rangkaian sistem pengapian semi transistor maupun full transistor, sistem tanda belok  yang menggunakan flasher tipe transistor, sistem pengisian yang menggunakan pengaturan tegangan secara elektronik, dan sebagainya. Gambar 2 di bawah ini memperlihatkan aplikasi transistor pada sistem pengapian full transistor sepeda motor: jika terminal basis TR2 mendapat sinyal dari pick up coil, maka arus yang mengalir lewat R akan cenderung ke massa lewat terminal C ke terminal E TR2. Akibatnya basis TR1 tidak ada arus sehingga TR1 akan OFF, sehingga arus pada kumparan primer ignition coil (koil pengapian) akan terputus dan akan terjadi induksi pada kedua kumparan koil pengapian tersebut. Terjadinya induksi tersebut menghasilkan percikan bunga api pada busi.

Contoh aplikasi penggunaan transistor pada sepeda motor

Gambar 2. Contoh aplikasi penggunaan transistor pada sepeda motor